Gambut Indonesia: Arsip Karbon, Api, dan Kabut Asap
Gambut bukan tanah biasa. Saat kering dan terbakar, ia menyimpan cerita karbon, kesehatan, dan kabut lintas batas.
Artikel 5 dari 8 dalam seri
Lihat seri ↗Lahan gambut terlihat menyerupai tanah biasa, tetapi material basah ini sesungguhnya menyimpan keunikan ekologis yang sangat besar. Gambut merupakan tumpukan bahan organik dari sisa tumbuhan purba yang tidak terurai sempurna akibat kondisi jenuh air selama ribuan tahun.
Selama area gambut berada dalam keadaan basah, tumpukan material organik ini bertindak sebagai tempat penyimpanan karbon terestrial paling efektif. Namun demikian, ketika manusia mengeringkan lahan tersebut, ekosistem gambut berubah menjadi sumber emisi gas rumah kaca yang sangat berbahaya.
Kebakaran lahan gambut di Indonesia bukan sekadar fenomena kebakaran hutan biasa yang menghanguskan vegetasi di permukaan tanah. Api dapat masuk ke dalam tanah, menyebar secara lambat di bawah permukaan, dan melepaskan asap tebal beracun yang mengganggu kesehatan.
Rantai sebab akibat ini membuktikan bahwa pelestarian gambut merupakan kunci utama dalam upaya mitigasi krisis iklim global. Kita harus memahami hubungan erat antara tata kelola air, perubahan fungsi lahan, dan perlindungan udara bersih bagi masyarakat luas.
Pembentukan Gambut dan Geografi Karbon di Indonesia
Proses pembentukan lahan gambut membutuhkan waktu ribuan tahun melalui akumulasi dedaunan, ranting, dan batang pohon yang terendam air rawa. Kondisi anaerobik atau minim oksigen di dalam air mencegah bakteri pengurai bekerja secara optimal untuk membusukkan materi organik tersebut.

Salah satu sudut di Sungai Pengabuan, Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi, Indonesia. Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur merupakan daerah dengan lahan gambut dan hutan gambut yang luas di
Yohanes Nindito Adisuryo (Johannnindito Adisuryo). Sumber, CC BY-SA 4.0, dicek 2026-06-17
Akibatnya, materi organik menumpuk membentuk lapisan tebal berpori yang kaya akan unsur karbon aktif dari sisa fotosintesis purba. Di Indonesia, lahan basah semacam ini banyak tersebar di sepanjang pesisir timur Sumatra, dataran rendah Kalimantan, serta bagian selatan Papua.
Kawasan gambut memiliki peran hidrologis yang sangat vital dalam menyerap air hujan dan menjaga cadangan air tanah regional. Lapisan tanah gambut bertindak bagaikan spons raksasa yang menyerap limpahan air pada musim hujan untuk mencegah bencana banjir bandang.
Sebaliknya, pada musim kemarau, spons raksasa ini perlahan melepaskan simpanan air ke sungai-sungai sekitar untuk mencegah kekeringan ekstrem. Nilai penting kawasan ini menjangkau skala global karena luasannya yang besar menyimpan miliaran ton karbon dioksida.
Bencana Saluran Drainase dan Pengeringan Lahan
Perubahan ekologis yang merusak mulai terjadi ketika perusahaan swasta membangun saluran drainase atau kanal di tengah lahan basah ini. Pembuatan kanal bertujuan untuk menurunkan muka air tanah agar tanaman kelapa sawit dan eukaliptus dapat tumbuh dengan subur.
Tanaman industri tersebut tidak dapat bertahan hidup jika akar mereka terendam air rawa yang memiliki tingkat keasaman tinggi. Penurunan muka air tanah menyebabkan lapisan atas gambut terpapar udara luar dan memulai proses pelapukan kimiawi yang cepat.
Oksigen dari udara mengoksidasi materi organik yang telah tersimpan lama, melepaskan gas karbon dioksida ke atmosfer secara terus-menerus. Selain memicu emisi karbon senyap, hilangnya kandungan air menyebabkan struktur gambut menyusut dan mengalami penurunan permukaan tanah.
Kondisi kering ini mengubah spons basah pelindung lingkungan menjadi hamparan bahan bakar padat yang sangat sensitif terhadap percikan api. Sedikit kelalaian manusia dalam mengelola api dapat memicu kebakaran luas yang sulit dikendalikan oleh tim pemadam kebakaran.
Mekanisme Pembakaran Lambat di Bawah Permukaan
Kebakaran di area gambut menggunakan mekanisme pembakaran lambat tanpa nyala api yang terjadi di bawah permukaan tanah. Ketika lapisan atas terbakar, api perlahan merambat ke bawah tanah mengikuti ketersediaan oksigen di sela-sela serat organik kering.

Peatland forest fires, Borneo, Indonesia
Muhammad Pasya Ramadhan. Sumber, CC BY-SA 4.0, dicek 2026-06-17
Pembakaran bawah tanah ini tidak menghasilkan kobaran api besar, melainkan kepulan asap kuning pekat yang keluar dari pori-pori tanah. Sifat pembakaran yang tersembunyi membuat deteksi dini menggunakan satelit pemantau titik panas sering kali terlambat mendeteksi bencana ini.
Petugas pemadam kebakaran di lapangan harus melakukan metode penyuntikan air ke dalam tanah untuk memadamkan bara api tersembunyi tersebut. Pemadaman total membutuhkan volume air yang sangat besar dan hanya dapat berhasil ketika musim hujan lebat tiba di wilayah kebakaran.
Asap yang dihasilkan dari pembakaran tidak sempurna ini mengandung gas karbon monoksida, senyawa organik volatil, serta partikel halus PM2.5. Partikel halus ini melayang di udara dalam waktu lama dan terhirup dalam-dalam hingga mencapai alveolus paru-paru manusia.
Krisis Kesehatan dan Kabut Asap Lintas Batas
Sebaran kabut asap dari kebakaran gambut mengabaikan batas wilayah administrasi kabupaten, provinsi, maupun kedaulatan negara tetangga. Angin musim membawa asap tebal ini melintasi Selat Malaka menuju wilayah udara Singapura, Malaysia, dan bagian selatan Thailand.
Bencana asap lintas batas ini merusak hubungan diplomatik antarnegara serta mengganggu aktivitas ekonomi kawasan Asia Tenggara secara signifikan. Ratusan penerbangan komersial terpaksa batal akibat jarak pandang yang menurun di bawah ambang batas keselamatan penerbangan sipil.
Ribuan sekolah di wilayah terdampak harus ditutup demi melindungi anak-anak dari paparan zat beracun yang melayang di udara. Data kesehatan menunjukkan lonjakan drastis penderita Infeksi Saluran Pernapasan Akut di berbagai puskesmas dan rumah sakit daerah.
Dampak jangka panjang paparan asap gambut berisiko meningkatkan angka kematian dini akibat penyakit kardiovaskular dan kanker paru-paru. Krisis ini menegaskan bahwa kebakaran lahan basah adalah bencana kemanusiaan nyata yang mengancam hak hidup sehat masyarakat.
Restorasi Gambut Melalui Strategi Tiga R

Once, the inner hidden embers of peatland, still alive. Produce the haze. Undermine the forest trees roots.
DenY Krisbiyantoro. Sumber, CC BY-SA 4.0, dicek 2026-06-17
Pemerintah Indonesia merespons krisis tahunan ini dengan mendirikan Badan Restorasi Gambut dan Mangrove untuk memimpin upaya pemulihan ekosistem. Lembaga ini menerapkan strategi pemulihan terpadu yang bertumpu pada tiga pilar utama yaitu pembasahan, penanaman, dan pemberdayaan.
Pilar pertama adalah pembasahan kembali atau rewetting yang dilakukan dengan membangun sekat kanal di saluran drainase yang terbengkalai. Pembangunan sekat kanal berfungsi untuk menahan laju aliran air keluar sehingga muka air tanah gambut dapat kembali naik.
Pilar kedua adalah penanaman kembali atau revegetasi menggunakan jenis tanaman asli rawa gambut yang ramah terhadap air. Tanaman lokal seperti jelutung rawa, ramin, dan sagu membantu memperkuat struktur tanah serta mempercepat pemulihan fungsi ekosistem alami.
Pilar ketiga adalah revitalisasi ekonomi masyarakat lokal agar mereka tidak lagi bergantung pada aktivitas pengeringan lahan basah. Pemerintah memperkenalkan metode budi daya ramah gambut seperti perikanan air tawar dan peternakan lebah madu hutan tanpa membakar lahan.
Dua Salah Paham yang Harus Diluruskan
Masyarakat harus memahami dua kekeliruan berpikir yang sering muncul dalam diskusi seputar kebakaran ekosistem gambut ini. Kekeliruan pertama adalah anggapan bahwa kebakaran tanah basah ini sepenuhnya disebabkan oleh faktor cuaca ekstrem seperti El Nino.
Faktor cuaca hanyalah pemicu kondisi kering, sedangkan kerentanan utama lahan terjadi akibat aktivitas pembuatan saluran drainase buatan manusia. Gambut yang terjaga kebasahannya secara alami tidak akan pernah terbakar meskipun musim kemarau panjang melanda wilayah tersebut.
Kekeliruan kedua adalah meyakini bahwa menyiram permukaan tanah dengan air sudah cukup untuk memadamkan seluruh bara api gambut. Api bawah tanah dapat terus membara di kedalaman beberapa meter selama berbulan-bulan dan muncul kembali saat angin bertiup kencang.

This image, acquired by one of the Copernicus Sentinel-2 satellites on 27 September 2023, shows the smoke clouds caused by the wildfires that are burning the peatlands of the Central and South Kaliman
European Union, Copernicus Sentinel-2 imagery. Sumber, Attribution, dicek 2026-06-17
Pemadaman yang efektif memerlukan penggenangan lahan secara menyeluruh agar air meresap ke lapisan terdalam tanah yang mengalami kebakaran. Evaluasi keberhasilan restorasi harus bersandar pada pemantauan tinggi muka air tanah secara konsisten di lapangan sepanjang tahun.
Refleksi Atas Tanah yang Menyimpan Bara
Perjuangan menyelamatkan lahan gambut Indonesia merupakan ujian konsistensi dalam melaksanakan komitmen penurunan emisi karbon global. Keberhasilan menjaga tanah basah ini mencerminkan keberpihakan kita terhadap kesehatan anak-cucu dan kelestarian ekosistem masa depan.
Setiap kanal drainase yang ditutup adalah langkah nyata untuk mengunci jutaan ton karbon agar tidak lepas menjadi racun di udara. Kita harus memandang lahan basah bukan sebagai tanah tidak produktif yang harus dikeringkan demi kepentingan perluasan industri kelapa sawit.
Menjaga gambut tetap basah berarti memelihara warisan alam yang menyokong kehidupan jutaan jiwa di sekitarnya secara berkelanjutan. Kesadaran untuk merawat keselarasan air dan tanah ini harus menjadi landasan utama dalam merancang pembangunan ekonomi nasional.
Claim Ledger
Tiap klaim utama dipisahkan dan diberi status bukti sendiri.
| Klaim | Status | Sumber | Catatan |
|---|---|---|---|
| Kebakaran gambut Indonesia 2015 sangat dipengaruhi kekeringan El Nino. | Terverifikasi kuat | [1][2][3] | Riset NASA dan kajian terkait mengaitkan kekeringan El Nino 2015 dengan lonjakan aktivitas kebakaran gambut. |
| Pembakaran gambut dapat membuat emisi partikulat jauh lebih besar dari inventaris biasa. | Didukung sumber | [1][2][3] | Kajian emisi mencatat partikel halus dalam jumlah besar dari pembakaran gambut, jauh di atas kebakaran vegetasi biasa. |
| Kabut asap memiliki dampak kesehatan publik lintas wilayah. | Didukung sumber | [1][2][3] | Studi kesehatan mengaitkan asap gambut dengan gangguan pernapasan yang menyebar lintas kota bahkan negara tetangga. |
Sumber yang dirujuk
- Field dkk. (2016) - Indonesian fire activity and smoke pollution in 2015 ↗
- Kiely dkk. (2019) - particulate emissions from Indonesian peat fires ↗
- NASA GISS - Indonesian fires and 2015 smoke context ↗
- UN-REDD - Preventing peatland fires in Indonesia ↗
- Environmental Health - health impacts of Indonesian peatland fires ↗
Batasan & hal yang belum pasti
- Artikel tidak menuduh perusahaan atau konsesi tertentu tanpa dokumen lokasi spesifik.
- Estimasi emisi dan dampak kesehatan memiliki asumsi model yang harus disebut saat mengutip angka.
Sumber
5 rujukan- [1]
- [2]
- [3]
- [4]
- [5]
Foto berlisensi yang ditampilkan
- Pengabuan River, Jambi, Indonesia, Yohanes Nindito Adisuryo (Johannnindito Adisuryo). Sumber, CC BY-SA 4.0, dicek 2026-06-17
- Peatland Forest fires, Muhammad Pasya Ramadhan. Sumber, CC BY-SA 4.0, dicek 2026-06-17
- Marking the Fire, DenY Krisbiyantoro. Sumber, CC BY-SA 4.0, dicek 2026-06-17
- Multiple wildfires burning in Indonesia (Copernicus), European Union, Copernicus Sentinel-2 imagery. Sumber, Attribution, dicek 2026-06-17
Bukti visual eksternal yang hanya ditautkan
Foto/video nyata yang relevan tetapi lisensinya belum jelas. NaLI tidak menampilkan ulang gambar ini. Tautan diarahkan ke sumber aslinya.
- NASA GISS Indonesian fires research page ↗
Halaman riset NASA/GISS terkait kebakaran Indonesia 2015 dan sensitivitas El Nino.
Sumber: www.giss.nasa.govdicek 2026-06-12Lisensi belum jelas; NaLI tidak menampilkan ulang gambar ini.
Baca juga
Dari kategori Investigasi
Intrusi Air Laut Pesisir Pantura: Realitas Geologi di Balik Amblesan Tanah
Intrusi air laut di sepanjang Pesisir Utara Jawa (Pantura) adalah krisis ekologi lambat yang dipicu oleh kombinasi amblesan tanah akibat ekstraksi air tanah berlebih dan kenaikan permukaan air laut.
Ekspor Pasir Laut: Apa yang Benar-Benar Ditulis di PP 26/2023
PP 26/2023 membuka kembali pemanfaatan dan ekspor "hasil sedimentasi di laut" setelah larangan dua dekade. Tulisan ini memisahkan apa yang benar-benar tertulis di regulasi dari klaim dampak yang masih diperdebatkan.
Deforestasi Kalimantan: Apa yang Bisa Dibuktikan dari Data Terbuka
Data satelit membantu melihat kehilangan tutupan pohon, tetapi definisi data menentukan apa yang sebenarnya bisa disimpulkan.
Lanjutkan eksplorasi
Satu tulisan jarang berdiri sendiri. Ini beberapa pintu berikutnya.
Asisten Riset NaLI
Tentang: Gambut Indonesia: Arsip Karbon, Api, dan Kabut Asap
Tanyakan apa saja tentang tulisan ini. Jawaban dirangkai dari arsip riset NaLI.
Jawaban dirangkai dari arsip NaLI dan bisa keliru, selalu cek sumber aslinya.
