← Semua artikel
AlamTerverifikasi kuat

Bangkai Planet di Perut Bumi: Anomali LLSVP

Gelombang gempa membongkar dua gumpalan seukuran benua di dasar mantel. Salah satu hipotesis paling berani menyebutnya sisa Theia, planet yang menabrak Bumi dan melahirkan Bulan.

5 menit bacaAlamMendalam

Untuk mencari sisa benda langit purba, manusia biasa menengadah ke angkasa. Tapi bagaimana jika reruntuhan sebuah planet lain justru tidak melayang di tata surya, melainkan terkubur sekitar 2.900 kilometer tepat di bawah telapak kaki kita?

Ketika ahli geofisika memakai gelombang gempa untuk memetakan isi perut Bumi, seperti mesin pemindai raksasa yang menembus tubuh planet, mereka menemukan dua hal yang tidak masuk akal. Di dasar mantel, tepat di atas inti besi cair, terbaring dua gumpalan batuan masif. Masing-masing lebih besar daripada benua Afrika, dengan ketinggian sampai sekitar 1.000 kilometer, lebih dari seratus kali tinggi Gunung Everest.

Sains menamainya LLSVP, singkatan dari Large Low-Shear-Velocity Provinces. Satu berada di bawah Samudra Pasifik, satu lagi di bawah Afrika. Pertanyaan paling menggoda di geofisika dalam: benda raksasa apa ini, dan dari mana asalnya?

Penampang skematis Bumi memperlihatkan inti, dua gumpalan LLSVP di dasar mantel di bawah Afrika dan Pasifik, dan plume yang naik ke permukaan

Diagram penjelas: dua LLSVP di dasar mantel

Diagram penjelas, bukan gambar berskala, yang menunjukkan posisi dua LLSVP di dasar mantel dan plume yang terkait hotspot, dari rujukan terbuka yang dicantumkan.

  1. 01Dua LLSVP duduk di dasar mantel, di bawah Afrika dan Pasifik.
  2. 02Gelombang gempa shear melambat saat melewatinya, tanda beda suhu dan kimia.
  3. 03Tepinya terkait asal plume dan hotspot besar seperti Hawaii dan Samoa.
  4. 04Asal-usulnya diperdebatkan: sisa mantel Theia atau tumpukan kerak subduksi purba.

Diagram penjelas, disusun dari sumber yang tercantum dalam artikel.. Sumber data, CC BY 4.0, dicek 2026-06-23

Apa yang sebenarnya terlihat seismograf

Diagram potongan struktur dalam planet kebumian, kerak, mantel, dan inti

Potongan struktur dalam planet kebumian: kerak, mantel, dan inti. LLSVP berada di dasar mantel, tepat di atas inti. Gambar NASA, domain publik.

NASA. Sumber, Public domain, dicek 2026-06-23

Penting memahami bahwa tidak ada yang pernah melihat LLSVP secara langsung. Yang dimiliki sains adalah cara batuan dalam memperlakukan gelombang gempa. Setiap gempa besar mengirim getaran menembus Bumi, dan jalur serta kecepatannya berubah saat melewati materi yang berbeda.

Di dua zona ini, gelombang shear melambat secara mencolok. Perlambatan itu konsisten muncul dalam ratusan ribu rekaman gempa global, sehingga keberadaan fisik LLSVP termasuk hal paling kokoh yang kita ketahui tentang mantel dalam. Tinjauan Garnero, McNamara, dan Shim menyimpulkan keduanya berbeda secara termal dan kimia dari mantel sekitarnya, kemungkinan berupa gumpalan yang lebih panas sekaligus lebih padat, yang disebut thermochemical pile.

Apa makna kata melambat di sini? Gelombang shear adalah getaran yang merambat dengan menggoyang batuan ke samping, dan kecepatannya turun ketika batuan lebih panas atau komposisinya berbeda. Perlambatan yang besar dan tajam, bukan landai, sulit dijelaskan hanya dengan beda suhu. Karena itu banyak ahli menyimpulkan LLSVP juga berbeda secara kimia, bukan sekadar lebih panas. Inilah alasan kata kimia terus muncul: bila hanya soal panas, gumpalan ini mestinya sudah lama larut dan menyatu ke dalam arus mantel yang terus mengaduk selama miliaran tahun.

Dua cara membaca gumpalan raksasa

Anomali ini menarik karena memicu friksi tajam antara dua cara membaca interior Bumi. Sumbu pertentangannya adalah metode: tomografi seismik klasik berhadapan dengan pemodelan geodinamika dan geokimia isotop.

Pandangan geologi yang lebih lama menduga gumpalan ini murni tumpukan kerak samudra purba. Lempeng yang tenggelam lewat subduksi perlahan turun selama miliaran tahun, lalu menumpuk di dasar mantel seperti rongsokan geologis. Penjelasan ini rapi dan tidak butuh peristiwa luar biasa. Namun ada pembacaan lain yang jauh lebih liar, dan justru di situlah debat memanas.

Hipotesis Theia: sisa planet yang menabrak Bumi

Ilustrasi tumbukan dua protoplanet di tata surya muda

Ilustrasi tumbukan raksasa, peristiwa yang diduga melahirkan Bulan dan, menurut satu hipotesis, meninggalkan sisa Theia di mantel Bumi. Gambar domain publik, H. Seldon.

H. Seldon (Wikimedia Commons). Sumber, Public domain, dicek 2026-06-23

Pada 2023, studi pemodelan yang dipimpin Qian Yuan mengguncang tatanan. Lewat simulasi tumbukan raksasa beresolusi tinggi, tim ini menunjukkan bahwa setelah Theia, protoplanet seukuran Mars, menabrak Bumi muda sekitar 4,5 miliar tahun lalu dan melahirkan Bulan, mantel bawah Bumi sebagian besar tetap padat.

Dalam skenario itu, bongkahan mantel Theia yang kaya besi dan lebih padat tenggelam dan mengendap di dasar mantel, menolak menyatu sempurna. Kandidat bongkahan itu adalah dua LLSVP. Bila benar, kita secara harfiah berdiri di atas reruntuhan planet lain yang ikut melahirkan Bulan.

Status klaim ini harus jujur: diperdebatkan. Model fisikanya valid, tetapi tidak bisa dibuktikan dengan menyentuh materialnya, karena manusia mustahil mengebor mantel sedalam itu. Hipotesis tumpukan subduksi purba masih bertahan kuat sebagai penjelasan tandingan.

Petunjuk dari gas tertua Bumi

Bukti tak langsung lain datang dari gunung berapi. Lava di hotspot tertentu membawa gas mulia primordial yang aneh. Williams dan Mukhopadhyay menemukan neon pada plume mantel dalam dengan rasio mendekati nilai nebula matahari, gas yang seharusnya hanya ada pada masa paling awal pembentukan tata surya.

Artinya, ada reservoir gas purba yang terjaga jauh di dalam Bumi, lebih tua daripada hampir semua proses permukaan. Karena banyak hotspot primitif berada di atas atau dekat tepi LLSVP, banyak yang menautkan keduanya. Sambungan itu menggugah, tetapi tetap interpretatif, sebab studi neon menunjuk plume dalam secara umum, bukan satu LLSVP tertentu.

Mesin yang masih menyala, bukan fosil mati

Air mancur lava menyembur di gunung Kilauea, Hawaii

Air mancur lava Kilauea, Hawaii. Hotspot seperti ini diberi tenaga mantle plume yang akarnya diduga di tepi LLSVP. Foto C. Heliker, USGS, domain publik.

C. Heliker (US Geological Survey). Sumber, Public domain, dicek 2026-06-23

LLSVP bukan sekadar benda diam. Tepi kedua gumpalan ini diduga kuat menjadi titik asal mantle plume yang naik ke permukaan. Saat plume menembus kerak, ia bisa memicu erupsi raksasa dan membentuk provinsi beku besar, jenis letusan yang dalam sejarah purba Bumi pernah dikaitkan dengan kepunahan massal.

Ada pula petunjuk dari geografi waktu dalam. Saat para ahli merekonstruksi posisi letusan raksasa purba dan memetakannya ke masa kini, banyak di antaranya jatuh tepat di atas tepi LLSVP. Pola ini memperkuat dugaan bahwa tepi kedua gumpalan adalah pabrik plume yang berumur panjang, tempat panas dari dasar mantel dipompa ke atas secara berkala. Namun pola itu juga bisa dibaca dua arah, dan tidak dengan sendirinya memastikan asal-usul gumpalannya.

Celah misteri yang paling menghantui justru soal masa kini. Sains belum bisa memastikan apakah kedua gumpalan ini sedang membesar, mengecil, atau bersiap mendorong material baru ke atas. Mengukur benda seukuran benua sedalam ribuan kilometer hanya lewat pantulan gempa adalah salah satu tugas paling sulit dalam ilmu kebumian, dan ketidaktahuan itu jujur diakui.

Catatan untuk pembaca di Nusantara

Mudah salah mengira gunung berapi Indonesia lahir dari gumpalan raksasa ini. Faktanya tidak. Rangkaian api Nusantara, dari Merapi sampai Tambora dan Krakatau, lahir dari subduksi lempeng samudra yang menunjam di bawah busur kepulauan, bukan dari plume LLSVP seperti Hawaii.

Membedakan keduanya bukan soal sepele. Vulkanisme subduksi dan vulkanisme plume punya mesin, ritme, dan watak letusan yang berbeda. Justru karena Indonesia hidup di atas pabrik gunung api paling aktif di dunia, penting membaca asal tenaganya dengan tepat, bukan mencampurnya dengan anomali mantel dalam yang sedang ramai dibicarakan.

Berdirilah sebentar di tanah mana pun. Jauh di bawah, lebih dalam daripada tambang terdalam dan palung terdalam, dua benua yang bukan benua menggantung di tepi inti Bumi. Mereka mungkin reruntuhan planet yang mati saat Bulan lahir, mungkin pula timbunan dasar samudra yang tenggelam sabar selama miliaran tahun. Sains belum memutuskan yang mana, dan kejujuran itulah bagian paling jujur dari cerita ini. Yang pasti, planet yang kita pijak ternyata jauh lebih asing daripada yang kita kira, bahkan bagi dirinya sendiri.

Claim Ledger

Tiap klaim utama dipisahkan dan diberi status bukti sendiri.

KlaimStatusSumberCatatan
Ada dua gumpalan seukuran benua di dasar mantel, di bawah Afrika dan Samudra Pasifik, tempat gelombang gempa shear melambat tajam.Terverifikasi kuat[1]Pencitraannya inferensi tak langsung dari pantulan gelombang.
LLSVP berbeda secara termal dan kimia dari mantel sekitarnya, kemungkinan berupa thermochemical pile yang lebih panas dan padat.Didukung sumber[1]Perlambatan gelombang shear menandakan beda suhu dan komposisi, bukan sekadar beda suhu saja.
Tepi LLSVP berkaitan dengan asal mantle plume dan hotspot vulkanik besar seperti Hawaii dan Samoa.Didukung sumber[1]Korelasi spasial antara tepi LLSVP dan lokasi hotspot serta provinsi beku besar purba.
Plume mantel dalam membawa gas mulia primordial, bukti reservoir purba jauh di dalam Bumi.Didukung sumber[3]Kaitan langsung gas ini ke LLSVP tertentu masih interpretatif.
LLSVP adalah sisa mantel planet Theia dari tumbukan yang membentuk Bulan.Diperdebatkan[2]Model termokimia Yuan dkk. (2023) mendukungnya, tetapi hipotesis tandingan akumulasi kerak subduksi purba masih bertahan kuat. Ini debat terpanas di geofisika dalam.
Status gerak LLSVP saat ini, apakah membesar, mengecil, atau bersiap naik.Belum cukup bukti[1]Pemantauan benda sedalam ribuan kilometer belum cukup presisi untuk memastikan arah perubahannya.

Batasan & hal yang belum pasti

  • Pencitraan benda sedalam sekitar 2.900 km bersifat inferensi tak langsung dari pantulan gelombang gempa; resolusi dan komposisi pasti masih diperdebatkan.
  • Hipotesis Theia tidak dapat dibuktikan empiris langsung karena manusia tidak bisa mengebor mantel sedalam itu.
  • Kaitan gas primordial ke LLSVP tertentu bersifat interpretatif, bukan sambungan yang sudah pasti.
  • Vulkanisme Indonesia berasal dari subduksi lempeng, bukan dari plume LLSVP; keduanya jangan dicampur.

Sumber

3 rujukan
  1. [1]
  2. [2]
  3. [3]

Foto berlisensi yang ditampilkan

  • Ilustrasi tumbukan raksasa pembentuk Bulan, H. Seldon (Wikimedia Commons). Sumber, Public domain, dicek 2026-06-23
  • Struktur internal planet kebumian, NASA. Sumber, Public domain, dicek 2026-06-23
  • Air mancur lava di Kilauea, Hawaii, C. Heliker (US Geological Survey). Sumber, Public domain, dicek 2026-06-23