Lautan yang Membunuh: Anomali Lautan Canfield dan Kepunahan Terbesar Bumi
Kepunahan Permian-Trias sering ditimpakan pada gunung berapi Siberia. Bukti geokimia menunjuk pembunuh yang lebih senyap: lautan yang berhenti bernapas, lalu melepas gas beracun ke seluruh dunia.
Saat membayangkan kiamat, manusia cenderung menatap langit, mencari bayangan asteroid atau badai matahari. Tapi rekaman batuan berumur 252 juta tahun menyimpan kisah lain. Kepunahan terbesar sepanjang sejarah Bumi tidak datang dari langit, melainkan merayap perlahan keluar dari kedalaman laut, dalam wujud gas yang tak terlihat dan berbau telur busuk.
Peristiwa itu disebut kepunahan Permian-Trias, kerap dijuluki The Great Dying. Sekitar 96 persen spesies laut lenyap, bersama sebagian besar kehidupan darat. Selama puluhan tahun, tertuduh utamanya tunggal: letusan raksasa Siberian Traps yang memuntahkan lava dan gas dalam skala benua. Namun bukti geokimia membongkar bahwa lava bukanlah pembunuh paling mematikan. Pembunuh yang lebih senyap adalah lautan itu sendiri.
Para ilmuwan menyebut kondisi lautan saat itu sebagai Lautan Canfield, mengikuti nama ahli geokimia Donald Canfield yang mengajukan gagasan lautan dalam yang kaya sulfida. Contoh kecilnya masih bisa dijumpai hari ini di Laut Hitam, cekungan yang air dalamnya beracun sulfida dan nyaris tanpa kehidupan hewan. Bayangkan kondisi seperti itu meluas hampir ke seluruh lautan dunia sekaligus.
Diagram penjelas: dari lautan sehat ke Lautan Canfield
Diagram penjelas, bukan foto, yang membandingkan lautan sehat dengan Lautan Canfield dan jalur gas H2S, dari rujukan terbuka yang dicantumkan.
- 01Lautan sehat: arus aktif membawa oksigen sampai ke dasar.
- 02Lautan Canfield: stagnan, anoksik, kaya hidrogen sulfida sampai zona cahaya.
- 03Chemocline yang naik melepas H2S beracun ke atmosfer.
- 04Biomarker bakteri belerang menjadi bukti kimia kondisi ini di sedimen purba.
Diagram penjelas, disusun dari sumber yang tercantum dalam artikel.. Sumber data, CC BY 4.0, dicek 2026-06-23
Ketika lautan berhenti bernapas

Basal Siberian Traps dari Dataran Tinggi Putorana, Siberia, berumur sekitar 251 juta tahun, tepat batas Permian-Trias. Letusan inilah pemicunya. Foto James St. John, CC BY 2.0.
Mekanismenya tidak dimulai dari air, melainkan dari udara. Karbon dioksida dari Siberian Traps menaikkan suhu Bumi secara brutal. Pemanasan ekstrem itu memperlambat, lalu nyaris menghentikan, sirkulasi laut global yang biasanya membawa oksigen dari permukaan ke dasar.
Lautan yang berhenti beraduk berubah menjadi genangan raksasa yang stagnan dan kehabisan oksigen. Kondisi miskin oksigen ini disebut anoksia. Di lautan mati seperti inilah penghuni lama Bumi mengambil alih: mikroba purba yang justru berkembang tanpa oksigen, mengubah sulfat di air laut menjadi hidrogen sulfida, gas yang sama yang membuat telur busuk berbau menyengat.
Dua cara membaca sebuah kiamat

Dataran Tinggi Putorana hari ini, tumpukan basal raksasa sisa Siberian Traps yang memicu krisis akhir Perm. Foto hunter74, CC BY-SA 3.0.
hunter74. Sumber, CC BY-SA 3.0, dicek 2026-06-23
Anomali ini menarik karena memicu friksi antara dua cara memahami kepunahan massal. Sumbu pertentangannya adalah metode: katastrofisme fisik berhadapan dengan paleomikrobiologi dan biogeokimia.
Pandangan katastrofisme menekankan bencana fisik langsung, yaitu abu, racun vulkanik, dan guncangan iklim mendadak yang meruntuhkan rantai makanan. Pandangan biogeokimia membaca lapisan yang lebih dalam, ketika kimia lautan sendiri berubah menjadi senjata. Letusan tetap menjadi pemicu, tetapi eksekusinya berlangsung lewat air dan mikroba, jauh lebih lambat dan jauh lebih luas.
Bukti lautan beracun: jejak bakteri di batu
Dari mana kita tahu lautan pernah seberacun itu? Jawabannya tersimpan sebagai fosil kimia. Grice dan rekan menemukan biomarker bernama isorenieratene di sedimen batas Permian-Trias, termasuk pada inti batuan di Cekungan Perth, Australia Barat. Molekul itu adalah sisa khas bakteri belerang hijau dari keluarga Chlorobiaceae.
Bakteri itu istimewa karena hanya bisa hidup di tempat yang punya dua hal sekaligus: cahaya matahari dan hidrogen sulfida. Kehadirannya berarti air beracun sulfida telah naik sampai ke zona dangkal yang masih terkena sinar. Para ahli menyebut kondisi mengerikan ini euksinia zona cahaya. Lautan bukan lagi sekadar kekurangan oksigen di dasar, melainkan beracun hampir sampai ke permukaan.
Yang membuat bukti ini meyakinkan adalah keawetan dan sebarannya. Molekul seperti isorenieratene cukup tahan untuk bertahan ratusan juta tahun terkubur dalam batuan, dan jenis bakteri yang memproduksinya sangat spesifik, sehingga tidak mudah keliru tafsir. Ketika sidik kimia yang sama muncul di sedimen dari berbagai belahan dunia pada lapisan waktu yang sama, gambaran yang terbentuk bukan kolam beracun lokal, melainkan kondisi yang merata di banyak lautan sekaligus.
Ketika lautan bersendawa racun
Racun itu tidak tinggal di air. Kump dan rekan memodelkan apa yang terjadi jika konsentrasi hidrogen sulfida melewati ambang kritis. Batas antara air beracun dan air beroksigen, yang disebut chemocline, dapat naik tiba-tiba sampai ke permukaan, lalu lautan seperti bersendawa.
Dalam model itu, fluks gas H2S ke atmosfer bisa melampaui emisi seluruh gunung berapi lebih dari dua ribu kali lipat. Gas itu meracuni makhluk di pesisir, lalu naik lebih tinggi dan mengikis lapisan ozon. Jejaknya terbaca pada spora tumbuhan purba yang cacat, tanda lonjakan radiasi ultraviolet yang menghanguskan kehidupan darat yang lolos dari gas.
Di sinilah kejujuran label menjadi penting. Gambaran populer tentang lautan ungu pekat di bawah langit hijau memang masuk akal secara kimia, tetapi itu rekonstruksi interpretatif, bukan warna yang pernah terukur. Begitu pula klaim bahwa H2S adalah pembunuh tunggal: euksinia adalah mekanisme penting, namun kepunahan ini paling jujur dibaca sebagai kerja bersama pemanasan, pengasaman, kehilangan oksigen, dan gas beracun.
Yang juga sering terlewat adalah betapa lama luka itu sembuh. Kehidupan tidak bangkit kembali dalam semusim atau seabad. Catatan batuan menunjukkan kehidupan laut awal Trias tetap miskin dan timpang selama jutaan tahun, dengan beberapa interval euksinia yang datang dan pergi sebelum ekosistem benar-benar pulih. Kepunahan ini bukan satu pukulan tunggal yang cepat, melainkan krisis berkepanjangan yang membuat Bumi menjadi tempat yang sulit dihuni untuk waktu yang sangat panjang.
Hantu Lautan Canfield di zaman kita

Ledakan fitoplankton di Laut Hitam dari satelit. Laut Hitam adalah cekungan euksinik terbesar masa kini, jendela ke Lautan Canfield purba. Gambar NASA, domain publik.
NASA. Sumber, Public domain, dicek 2026-06-23
Mempelajari Lautan Canfield bukan sekadar membaca nisan Bumi purba, melainkan menatap cermin masa depan. Hari ini, akibat limpasan pupuk dan pemanasan permukaan, zona mati yang miskin oksigen terus meluas di banyak perairan dunia, dari Teluk Meksiko sampai Laut Baltik.
Indonesia tidak kebal. Perairan pesisir padat penduduk seperti Teluk Jakarta mengalami pengayaan nutrien berlebih dan penurunan oksigen yang berulang memicu kematian ikan massal lokal. Skalanya tentu jauh dari kiamat Perm, tetapi mekanisme dasarnya bersaudara: air yang terlalu hangat dan terlalu kaya nutrien berhenti bernapas. Celah yang membuat oseanograf gelisah adalah titik baliknya, seberapa jauh laut modern harus berubah sebelum lapisan airnya mengunci dan membangunkan kembali kimia mematikan itu.
Bayangkan berdiri di sebuah pantai 252 juta tahun lalu. Airnya keruh dan diam, udaranya berbau telur busuk yang bisa mematikan dalam hitungan menit, dan hampir tidak ada yang bergerak. Kepunahan terbesar dalam sejarah ternyata tidak selalu berwajah ledakan dahsyat dari langit. Kadang ia datang sebagai laut yang perlahan berhenti bernapas, lalu menghembuskan napas terakhirnya ke seluruh dunia. Pelajaran paling tajam dari Lautan Canfield bukan tentang masa lalu yang jauh, melainkan tentang seberapa rapuh keseimbangan yang membuat lautan kita hari ini tetap biru dan hidup.
Claim Ledger
Tiap klaim utama dipisahkan dan diberi status bukti sendiri.
| Klaim | Status | Sumber | Catatan |
|---|---|---|---|
| Kepunahan Permian-Trias sekitar 252 juta tahun lalu memusnahkan sekitar 96 persen spesies laut, dipicu vulkanisme raksasa Siberian Traps. | Terverifikasi kuat | [3] | Skala kepunahan dan kaitan waktunya dengan Siberian Traps adalah konsensus luas dalam ilmu kebumian. |
| Pemanasan ekstrem dan stagnasi sirkulasi memicu anoksia laut luas di akhir Perm. | Terverifikasi kuat | [3] | Didukung data isotop dan banyak rekonstruksi paleo-oseanografi. |
| Euksinia zona cahaya benar terjadi, yaitu air beracun hidrogen sulfida naik sampai zona yang terkena sinar matahari. | Terverifikasi kuat | [1] | Biomarker isorenieratene dari bakteri belerang hijau ditemukan di sedimen batas Permian-Trias di berbagai tempat. |
| Bila H2S melewati ambang kritis, lautan dapat melepas gas beracun masif ke atmosfer dan mengikis ozon. | Didukung sumber | [2] | Hasil pemodelan dengan asumsi tertentu, bukan pengukuran langsung. |
| Hidrogen sulfida adalah pembunuh utama tunggal, mengalahkan peran langsung vulkanisme. | Diperdebatkan | [2][3] | Euksinia adalah mekanisme pembunuh penting, tetapi konsensus membaca kepunahan ini sebagai multi-sebab: pemanasan, pengasaman, kekurangan oksigen, dan H2S bekerja bersama. |
| Lautannya berwarna ungu pekat dan langitnya hijau. | Terbatas | [1] | Citra ini populer dan masuk akal secara kimia, tetapi merupakan rekonstruksi interpretatif, bukan warna yang terukur. |
| Urutan pasti antara keracunan H2S di darat dan perusakan ozon. | Belum cukup bukti | [2] | Kronologi rincinya masih bergantung pada model dinamika yang diperdebatkan. |
Sumber yang dirujuk
- Grice dkk. (2005) - Photic Zone Euxinia During the Permian-Triassic Superanoxic Event ↗
- Kump, Pavlov & Arthur (2005) - Massive release of hydrogen sulfide to the surface ocean and atmosphere during intervals of oceanic anoxia ↗
- Meyer & Kump (2008) - Oceanic Euxinia in Earth History: Causes and Consequences ↗
Batasan & hal yang belum pasti
- Citra populer lautan ungu pekat dan langit hijau bersifat interpretasi dan rekonstruksi, bukan pengukuran langsung warna purba.
- Bobot peran euksinia dibanding pemanasan, pengasaman, dan kekurangan oksigen masih diperdebatkan; kepunahan ini paling tepat dibaca multi-sebab.
- Urutan kronologis pasti antara keracunan H2S dan perusakan ozon, serta laju pelepasan gas, masih bergantung pada model.
Sumber
3 rujukan- [1]
- [2]
- [3]
Foto berlisensi yang ditampilkan
- Basal Siberian Traps dari batas Permian-Trias, James St. John. Sumber, CC BY 2.0, dicek 2026-06-23
- Dataran Tinggi Putorana, sisa Siberian Traps, hunter74. Sumber, CC BY-SA 3.0, dicek 2026-06-23
- Ledakan fitoplankton di Laut Hitam, NASA. Sumber, Public domain, dicek 2026-06-23
Lanjut menelusuri
Terhubung dengan tulisan ini
- Alam6 mntBenua Kehidupan di Bawah Kaki Kita: Anomali Biosfer GelapSama-sama soal mikroba pengubah kimia planet, di sini bakteri belerang yang meracuni lautan.
- Alam5 mntTambora 1815: Letusan yang Mengubah Iklim DuniaContoh bagaimana vulkanisme mengguncang iklim, tema yang juga jadi pemicu kepunahan Permian-Trias.
- Alam6 mntTerumbu Karang Indonesia: Pusat Keanekaragaman yang Tertekan IklimTekanan laut modern, pemanasan dan kehilangan oksigen, yang relevan dengan pelajaran Lautan Canfield.
Lanjutkan eksplorasi
Satu tulisan jarang berdiri sendiri. Ini beberapa pintu berikutnya.
Asisten Riset NaLI
Tentang: Lautan yang Membunuh: Anomali Lautan Canfield dan Kepunahan Terbesar Bumi
Tanyakan apa saja tentang tulisan ini. Jawaban dirangkai dari arsip riset NaLI.
Jawaban dirangkai dari arsip NaLI dan bisa keliru, selalu cek sumber aslinya.
