← Semua artikel
SejarahTerverifikasi kuat

Samalas 1257: Letusan yang Diingat Es Kutub, Dilupakan Sejarah, Disimpan Babad

Selama puluhan tahun dunia mencari gunung hantu di balik anomali belerang abad ke-13. Jawabannya ada di Lombok, tersimpan dalam batu dan teks lokal yang lama dianggap dongeng.

diperbarui 22 Juni 20267 menit bacaSejarahMendalam

Selama puluhan tahun, ilmuwan iklim menyimpan satu teka-teki yang menjengkelkan. Inti es di Greenland dan Antarktika, dua ujung bumi yang berjauhan, sama-sama menyimpan lapisan belerang tebal bertanggal sekitar tahun 1257. Sinyalnya raksasa, salah satu yang terbesar dalam tujuh ribu tahun terakhir. Artinya pernah ada letusan tropis luar biasa pada masa itu. Masalahnya satu: tidak ada yang tahu gunung mana pelakunya.

Para peneliti menjulukinya "letusan misteri". Mereka memburu tersangka dari Meksiko sampai Amerika Selatan, menyandingkan abu, mencocokkan usia, dan berkali-kali pulang dengan tangan kosong. Gunung sebesar itu seharusnya meninggalkan jejak yang sulit disembunyikan. Namun selama bertahun-tahun, gunung hantu itu seakan menolak ditemukan.

Jawabannya, ketika akhirnya muncul pada 2013, ada di tempat yang tidak banyak dilirik para pemburu: sebuah danau biru tenang di Pulau Lombok.

Tanda di es, gunung tanpa nama

Inti es bekerja seperti pita rekaman bumi. Setiap tahun salju turun, memerangkap debu, gas, dan butir kimia atmosfer, lalu memadat menjadi lapisan tahunan. Letusan besar yang menyemprotkan belerang ke stratosfer akan meninggalkan garis sulfat yang bisa dibaca ratusan tahun kemudian.

Garis tahun 1257 itu istimewa karena terbaca serempak di kedua kutub. Itu petunjuk kuat bahwa letusannya terjadi di daerah tropis, sehingga aerosolnya tersebar ke utara dan selatan sekaligus. Beban belerangnya pun diperkirakan sekitar dua kali letusan Tambora 1815, letusan yang sudah cukup besar untuk mengacaukan iklim dunia.

Petunjuknya jelas, alamatnya tidak. Tanda di es hanya berkata "ada gunung besar yang meletus", tanpa pernah menyebut namanya.

Bagaimana namanya akhirnya muncul

Danau Segara Anak dilihat dari bibir kaldera

Danau Segara Anak, danau kawah yang mengisi kaldera sisa runtuhan Samalas, dilihat dari bibir kaldera. Foto Petter Lindgren, CC BY-SA 3.0.

Petter Lindgren. Sumber, CC BY-SA 3.0, dicek 2026-06-17

Tim yang dipimpin Franck Lavigne memecahkan kasus ini bukan dengan satu bukti tunggal, melainkan dengan menumpuk banyak petunjuk sampai semuanya menunjuk ke satu titik. Mereka membandingkan komposisi kimia pecahan kaca vulkanik di inti es kutub dengan tephra di Lombok. Sidik jari geokimianya cocok.

Bukti lain ikut menguatkan. Penanggalan radiokarbon arang yang terkubur di bawah endapan abu menunjukkan tidak ada usia yang lebih muda daripada 1257. Kaldera Segara Anak yang menganga, selebar sekitar 6 kali 8,5 kilometer dan sedalam 800 meter, adalah lubang besar yang tersisa setelah tubuh Gunung Samalas purba runtuh ke dalam dirinya sendiri. Volume magma yang dilontarkan diperkirakan setidaknya 40 kilometer kubik, setara letusan kelas tertinggi.

Yang membuat temuan ini meyakinkan justru gabungannya. Geologi, geokimia, kronologi karbon, dan teks lokal datang dari arah berbeda, lalu bertemu di satu kesimpulan yang sama. Bukti seperti ini sulit dibantah, karena setiap jalur memeriksa jalur yang lain.

Dua cara mengukur kehancuran

Cerita Samalas sebenarnya adalah cerita tentang dua sistem pengetahuan yang lama tidak saling bicara. Di satu sisi ada sains keras: inti es, geokimia, model iklim. Di sisi lain ada ingatan manusia: kronik Eropa dan naskah lontar Lombok.

Kedua cara membaca itu mengukur hal yang berbeda. Sains keras pandai menghitung berapa banyak belerang yang naik ke langit dan seberapa dingin musim panas setelahnya. Teks sejarah pandai mencatat apa yang dirasakan manusia di darat, kota yang hancur, ladang yang gagal, orang yang mengungsi. Keduanya bisa saling melengkapi, tetapi juga bisa saling bertabrakan. Justru di titik tabrakan itulah cerita ini menjadi menarik.

Friksi sains keras: belerang banyak, dingin sedikit

Pemandangan senja dari bibir kaldera Rinjani, Lombok

Senja dari bibir kaldera Rinjani. Kerucut Gunung Baru di tengah danau tumbuh setelah letusan 1257. Foto Paxson Woelber, CC BY-SA 4.0.

Paxson Woelber. Sumber, CC BY-SA 4.0, dicek 2026-06-17

Studi Vidal dan rekan menempatkan Samalas sebagai pelepasan gas stratosfer terbesar pada Era Umum, lengkap dengan lontaran klorin dan bromin dalam jumlah besar. Secara intuisi, letusan sebesar itu mestinya membekukan dunia jauh lebih parah daripada Tambora.

Di sinilah muncul friksi yang sempat membingungkan para ahli. Samalas melepas belerang sekitar 1,8 kali lebih banyak daripada Tambora, tetapi pendinginan yang terekam pada lingkar pohon ternyata tidak ikut berlipat. Model iklim awal justru menebak pendinginan yang jauh lebih dalam daripada yang dicatat alam. Bukti dan teori tidak sejalan.

Wade dan rekan mendamaikan keduanya lewat fisika partikel kecil. Saat belerang yang dilepas terlalu banyak, butir aerosol sulfat tumbuh makin gemuk lewat kondensasi dan penggumpalan. Partikel gemuk kurang efektif memantulkan sinar matahari, dan lebih cepat jatuh dari langit. Efek pendinginannya seperti membentur langit-langit, tidak naik lurus mengikuti jumlah belerang. Hasilnya, musim panas Belahan Bumi Utara diperkirakan hanya turun sekitar satu derajat Celsius.

Ini pelajaran yang melawan akal sehat: letusan terbesar tidak otomatis memberi pendinginan terbesar. Angka itu sendiri masih perkiraan dari proksi dan model, bukan termometer abad ke-13, sehingga tetap perlu dibaca dengan kerendahan hati.

Apa yang dicatat dunia, apa yang dicatat Lombok

Danau Segara Anak saat petang dari Plawangan

Danau Segara Anak saat petang dari Plawangan. Foto Giovari max, CC BY-SA 4.0.

Giovari max. Sumber, CC BY-SA 4.0, dicek 2026-06-17

Pada skala global, kronik Eropa mencatat tahun-tahun bermasalah di akhir 1250-an: musim panas yang dingin dan basah, panen yang terlambat, harga pangan yang melonjak. Mudah sekali menarik garis lurus dari letusan Lombok ke kelaparan di Inggris. Garis itu, ternyata, terlalu lurus.

Guillet dan rekan menunjukkan dua hal penting. Pertama, pendinginannya tidak merata; Eropa Barat, Siberia, dan Jepang mendingin tajam, sementara wilayah lain lebih ringan. Kedua, kelaparan parah di Inggris dan Jepang sudah berjalan sebelum letusan terjadi. Oleh karena itu, Samalas paling jujur dibaca sebagai pemberat krisis yang sudah ada, bukan pemicu tunggal dari nol. Sejarawan Bruce Campbell sampai pada nada serupa untuk krisis pangan Inggris 1258.

Ada satu klaim populer yang sering muncul di sini, yaitu kuburan massal di St Mary Spital, London. Arkeolog menemukan tumpukan jenazah abad pertengahan yang, lewat penanggalan, ternyata lebih tua daripada wabah Maut Hitam. Sebagian orang menautkannya langsung ke krisis pangan 1258 dan, dari situ, ke Samalas. Pengaitan itu menggoda, tetapi rentang penanggalannya lebar dan sebab kematiannya tidak bisa dipastikan. Klaim ini berdiri di kolom "diperdebatkan", bukan di kolom fakta.

Di Lombok, ceritanya jauh lebih langsung dan jauh lebih pahit.

Babad yang ternyata bukan dongeng

Naskah lontar Babad Lombok menyimpan ingatan kehancuran yang lama dianggap sastra belaka. Naskah ini menyebut nama Samalas, menggambarkan gemuruh, hujan batu, dan abu yang menggelapkan siang, lalu mencatat hancurnya Pamatan, ibu kota kerajaan yang konon berpenduduk sekitar sepuluh ribu jiwa.

Selama bertahun-tahun, kesaksian semacam itu diperlakukan sebagai mitos pengantar tidur. Kajian Mutaqin dan rekan menempatkannya kembali pada posisi yang pantas. Mereka membaca tiga naskah babad dan menemukan rekaman seluruh siklus bencana: penduduk lari ke perbukitan, menghindari kawasan maut, mengungsi ke desa dan pulau tetangga, lalu pelan-pelan membangun kembali permukiman di bawah pimpinan para pemuka. Tidak ada sumber awal lain di Indonesia yang merekam manajemen bencana selengkap ini.

Inilah dasar kasus ini yang paling dalam. Babad sebenarnya sudah menyimpan alamat gunung itu jauh sebelum inti es ditemukan. Yang kurang bukan ingatannya, melainkan pengakuan dunia luar terhadap ingatan itu. Teks lokal baru dianggap serius setelah cocok dengan batu yang bisa diuji di laboratorium. Pertanyaan yang tertinggal terasa tidak nyaman: berapa banyak sejarah Nusantara lain yang masih menunggu dianggap nyata?

Yang masih gelap

Danau Segara Anak saat matahari terbenam

Air biru yang tenang hari ini menutup salah satu kaldera paling berbahaya dalam sejarah manusia. Foto Giovari max, CC BY-SA 4.0.

Giovari max. Sumber, CC BY-SA 4.0, dicek 2026-06-17

Kasus Samalas memang sudah kuat, tetapi belum tuntas. Lokasi pasti Pamatan masih hilang di bawah lapisan endapan, dan ekskavasinya belum memastikan reruntuhan kota itu. Selisih antara model iklim dan bukti lingkar pohon masih terus disempurnakan. Yang paling sunyi justru wilayahnya sendiri: bagaimana letusan ini mengguncang kerajaan-kerajaan Nusantara abad ke-13 di luar Lombok hampir tidak terdokumentasi.

Celah-celah itu bukan kelemahan cerita, melainkan daftar pekerjaan yang belum selesai. Kejujuran tentang apa yang belum diketahui sama pentingnya dengan kebanggaan atas apa yang sudah terungkap.

Segara Anak hari ini tampak damai. Wisatawan mendaki Rinjani demi air birunya yang tenang, kerucut Gunung Baru tumbuh perlahan di tengah danau, dan sedikit yang menyadari bahwa kawah ini pernah mengirim selubung belerang yang mendinginkan separuh belahan bumi utara. Gunung hantu yang dicari dunia selama puluhan tahun ternyata tidak pernah bersembunyi. Es kutub merekam tanggalnya, batu Lombok menyimpan reruntuhannya, dan babad mengingat namanya. Manusia hanya butuh waktu untuk mau membaca ketiganya sekaligus.

Claim Ledger

Tiap klaim utama dipisahkan dan diberi status bukti sendiri.

KlaimStatusSumberCatatan
Letusan misteri global 1257 berasal dari Gunung Samalas di kompleks Rinjani, Lombok.Terverifikasi kuat[1][2][7][8]Geokimia pecahan kaca abu di inti es kutub cocok dengan tephra Samalas, dan cocok pula dengan kaldera, kronologi, serta catatan Babad Lombok.
Magnitudo dan VEI letusan mencapai 7, melontarkan minimal 40 km3 magma dan membentuk kaldera Segara Anak sekitar 6 x 8,5 km sedalam 800 m.Terverifikasi kuat[1][7]Volume diperkirakan dari peta endapan dan stratigrafi lapangan, kaldera terukur langsung di Rinjani.
Samalas adalah pelepasan gas belerang stratosfer terbesar pada Era Umum, dengan sinyal sulfat bipolar terbesar sekitar 7.000 tahun terakhir, kira-kira dua kali Tambora 1815.Terverifikasi kuat[1][2]Sinyal terbaca serempak di inti es Greenland dan Antarktika; beban belerang dihitung dari endapannya.
Meski belerangnya jauh lebih banyak, pendinginan global Samalas tidak ikut jauh lebih besar daripada Tambora; respons musim panas Belahan Bumi Utara sekitar minus 1 derajat Celsius.Didukung sumber[3][4]Angka berasal dari proksi dan pemodelan, bukan pengukuran langsung.
Pendinginan pasca-letusan tidak merata secara geografis.Didukung sumber[4]Eropa Barat, Siberia, dan Jepang mendingin tajam, sebagian wilayah lain jauh lebih ringan.
Kelaparan 1258 di Inggris dan Jepang sudah berlangsung sebelum letusan; Samalas memperberat krisis yang sudah ada, bukan memicunya dari nol.Didukung sumber[4][9]Koreksi atas narasi populer yang menyebut kelaparan terjadi murni akibat letusan.
Babad Lombok merekam kehancuran Pamatan dan seluruh siklus bencana; teks ini meyakinkan setelah bertemu bukti geologi yang bisa diuji.Didukung sumber[5][8][1]Tiga naskah babad menggambarkan pelarian, pengungsian, dan pembangunan kembali; nilainya menguat ketika cocok dengan endapan dan kronologi.
Kuburan massal St Mary Spital di London disebabkan langsung oleh dampak iklim Samalas.Diperdebatkan[6][9]Kuburan massal itu nyata dan bertanggal sebelum Maut Hitam, tetapi atribusi sebab kematian ke letusan Lombok bersifat hipotesis; rentang radiokarbon lebar dan kelaparan Inggris sudah berjalan lebih dulu.
Lokasi pasti ibu kota Pamatan yang terkubur.Belum cukup bukti[5]Babad menyebut keberadaannya, tetapi situsnya belum dipastikan secara arkeologis di bawah endapan vulkanik.

Batasan & hal yang belum pasti

  • Babad Lombok di artikel ini dibaca lewat rujukan ilmiah yang menelaahnya, bukan dari transkripsi naskah primer yang diverifikasi langsung oleh tim redaksi.
  • Angka pendinginan iklim adalah perkiraan dari proksi lingkar pohon dan model sistem Bumi, bukan pengukuran instrumen abad ke-13.
  • Dampak global pada iklim dan dampak lokal di Lombok harus dibedakan tegas; keduanya tidak setara, baik dari sisi skala maupun kekuatan buktinya.
  • Pengaitan letusan dengan peristiwa sosial yang jauh, seperti kuburan massal di London, bersifat korelatif dan sebagiannya masih diperdebatkan.
  • Dampak spesifik terhadap kerajaan-kerajaan Nusantara abad ke-13 di luar Lombok nyaris tidak terdokumentasi dan menjadi celah riset terbuka.

Sumber

10 rujukan
  1. [1]
  2. [2]
  3. [3]
  4. [4]
  5. [5]
  6. [6]
  7. [7]
  8. [8]
  9. [9]
  10. [10]

Foto berlisensi yang ditampilkan

  • Segara Anak, Petter Lindgren. Sumber, CC BY-SA 3.0, dicek 2026-06-17
  • Danau Segara Anak, kerucut Gunung Baru, dan puncak Rinjani, Paxson Woelber. Sumber, CC BY-SA 4.0, dicek 2026-06-17
  • Danau Segara Anak, Giovari max. Sumber, CC BY-SA 4.0, dicek 2026-06-17
  • Danau Segara Anak saat matahari terbenam, Giovari max. Sumber, CC BY-SA 4.0, dicek 2026-06-17

Bukti visual eksternal yang hanya ditautkan

Foto/video nyata yang relevan tetapi lisensinya belum jelas. NaLI tidak menampilkan ulang gambar ini. Tautan diarahkan ke sumber aslinya.

Riwayat & koreksi artikel ini

  1. 22 Juni 2026 · Pembaruan data

    Pendalaman ke standar riset mendalam. Menambah friksi model iklim vs lingkar pohon (Wade dkk. 2020), mengoreksi kausalitas kelaparan 1258 (Guillet dkk. 2017), menambah sumber tertulis pribumi dan pemulihan Lombok (Mutaqin dkk. 2022), serta menandai klaim kuburan massal London sebagai diperdebatkan.