Echidna Attenborough: Hilang 60 Tahun, Muncul di Kamera Jebak Pegunungan Cyclops
Mamalia bertelur yang hanya dikenal dari satu spesimen tahun 1961 ternyata masih berjalan di hutan Papua. Yang menemukannya bukan cuma teknologi, tapi pengetahuan orang Papua sendiri.
Di kedalaman rimba Pegunungan Cyclops yang terletak di Provinsi Papua, sebuah kamera jebak berhasil menangkap momen bersejarah pada pertengahan tahun 2023. Rekaman visual tersebut memperlihatkan seekor mamalia unik dengan tubuh berduri dan bermoncong panjang sedang berjalan lambat. Penemuan ini segera mengakhiri penantian panjang dunia sains selama lebih dari enam dekade.
Hewan tersebut merupakan echidna moncong-panjang Attenborough (Zaglossus attenboroughi), salah satu mamalia paling langka dan paling aneh di planet bumi. Penemuan kembali satwa ini secara resmi terkonfirmasi melalui naskah ilmiah hasil penelaahan sejawat pada tahun 2025. Peristiwa ini menjadi bukti nyata bahwa spesies yang sempat dikira punah masih mampu bertahan hidup di pedalaman hutan tropis Papua.
Bagi kalangan peneliti keanekaragaman hayati, keberadaan mamalia ini memiliki arti yang sangat penting untuk memahami sejarah perkembangan makhluk hidup. Satwa ini mewakili salah satu garis keturunan evolusioner paling tua yang masih bertahan hingga hari ini. Keberhasilan mendokumentasikan kehadirannya di alam liar membuka kembali lembaran riset yang sempat terputus lama.
Keajaiban Evolusi Kelompok Monotremata

Spesimen echidna Attenborough dari koleksi Naturalis. Sampai 2023, gambar seperti inilah satu-satunya wujud spesies yang bisa dilihat publik. Rekaman hewan hidupnya dari ekspedisi 2023 dipegang tim peneliti dan tidak berlisensi bebas.
Naturalis Biodiversity Center, via Wikimedia Commons, CC0. Sumber, CC0 1.0 (domain publik), dicek 2026-06-16
Sains mengelompokkan echidna ke dalam monotremata, yaitu kelompok mamalia yang memiliki cara reproduksi sangat unik dengan bertelur alih-alih melahirkan anak. Hanya ada lima spesies monotremata yang masih hidup di seluruh dunia hari ini, termasuk platipus dan beberapa jenis echidna lainnya. Keunikan cara hidup ini menjadikan mereka sebagai fosil hidup yang sangat berharga bagi ilmu pengetahuan.
Echidna moncong-panjang memiliki anatomi tubuh yang merupakan gabungan dari berbagai karakteristik unik satwa lain. Tubuh mereka dipenuhi oleh duri tajam layaknya landak untuk melindungi diri dari ancaman bahaya di lantai hutan. Paruh panjang yang berbentuk tabung berfungsi sebagai alat untuk mendeteksi sinyal listrik lemah yang dipancarkan oleh mangsa mereka seperti cacing tanah.
Garis evolusi monotremata telah memisahkan diri dari kelompok mamalia berplasenta lainnya sejak lebih dari seratus juta tahun silam. Kehilangan satu spesies dari kelompok kecil ini akan merusak pemahaman kita mengenai rantai evolusi mamalia secara keseluruhan. Oleh karena itu, penemuan kembali echidna Attenborough bukan sekadar pencapaian dokumentasi satwa biasa.
Kisah Spesimen Tunggal Tahun 1961
Sebelum ekspedisi tahun 2023 berhasil menemukan kembali satwa ini, seluruh data ilmiah mengenai echidna Attenborough hanya berasal dari satu spesimen. Benda koleksi tersebut dikumpulkan oleh ahli botani Belanda, Pieter van Royen, pada tahun 1961 di lereng Pegunungan Cyclops. Setelah pengumpulan itu, keberadaan satwa tersebut seolah lenyap ditelan rimbunnya hutan Papua.
Dua ilmuwan terkemuka, Tim Flannery dan Colin Groves, baru mendeskripsikan spesimen ini sebagai spesies baru pada tahun 1998. Mereka menyadari adanya perbedaan morfologis yang signifikan dari spesimen tersebut dibandingkan dengan spesies echidna lainnya di Papua dan Australia. Penamaan spesies ini didedikasikan untuk menghormati naturalis kenamaan asal Inggris, Sir David Attenborough.

Mapa del área de distribución de Zaglossus sp.: Zaglossus attenboroughi Zaglossus bartoni Zaglossus bruijni
Almamía. Sumber, Public domain, dicek 2026-06-17
Ketiadaan laporan perjumpaan baru selama puluhan tahun menempatkan mamalia berduri ini dalam status Kritis pada Daftar Merah IUCN. Banyak ilmuwan mengkhawatirkan spesies ini telah punah akibat menyusutnya luasan hutan primer di sekitar kawasan Jayapura. Ketiadaan bukti baru membuat upaya pelestarian terhambat karena tidak adanya kepastian mengenai keberadaan populasi di lapangan.
Perjuangan Berat Ekspedisi Pegunungan Cyclops
Keberhasilan menemukan kembali mamalia bertelur ini merupakan buah dari kerja keras ekspedisi ilmiah yang dipimpin oleh University of Oxford. Tim ekspedisi bekerja sama dengan organisasi kemasyarakatan YAPEKA, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Papua, serta Universitas Cenderawasih. Mereka harus menghadapi tantangan medan Pegunungan Cyclops yang sangat ekstrem dan berbahaya.
Para peneliti harus mendaki lereng-lereng curam yang rawan longsor di tengah cuaca ekstrem hutan hujan tropis Papua. Mereka memasang lebih dari delapan puluh unit kamera jebak di berbagai ketinggian untuk memantau pergerakan satwa nokturnal. Selama berminggu-minggu, tim harus berhadapan dengan ancaman malaria, gigitan lintah hutan, serta gempa bumi ringan.
Kamera jebak yang dipasang tidak langsung memberikan hasil memuaskan pada awal-awal pemeriksaan kartu memori. Keberadaan echidna Attenborough baru terdeteksi pada kartu memori dari kamera terakhir yang diperiksa menjelang hari-hari akhir ekspedisi. Rekaman foto dan video tersebut segera disambut dengan kelegaan luar biasa oleh seluruh anggota tim yang telah berjuang di lapangan.

Sir David's Long-beaked Echidna (Zaglossus attenboroughi) range
Chermundy. Sumber, CC BY-SA 3.0, dicek 2026-06-17
Kearifan Lokal Masyarakat Adat Yongsu Sapari
Satu hal yang paling penting untuk dicatat adalah bahwa keberhasilan penemuan ini tidak terlepas dari peran masyarakat adat Papua. Warga kampung Yongsu Sapari yang menetap di lereng Pegunungan Cyclops memiliki pengetahuan mendalam mengenai satwa ini. Mereka menyebut echidna moncong-panjang dengan nama lokal payangko.
Masyarakat adat menggunakan payangko dalam sistem penyelesaian konflik adat tradisional mereka yang telah berlangsung turun-temurun. Apabila terjadi pertikaian antarwarga, pihak yang bersalah diwajibkan untuk mencari payangko di puncak gunung yang sangat sulit dijangkau. Sanksi adat yang berat ini bertujuan untuk mendinginkan ketegangan sosial dan menjaga perdamaian kampung.
Pengetahuan mengenai kebiasaan hidup payangko membantu para peneliti untuk meletakkan kamera jebak di lokasi yang tepat. Warga lokal menunjukkan jalur-jalur pergerakan satwa di sela-sela akar pohon besar dan lubang tanah basah. Kolaborasi antara sains modern dan kearifan lokal ini terbukti menjadi formula terbaik untuk mengungkap keberadaan satwa yang tersembunyi.
Langkah Kritis Setelah Penemuan Kembali

Map of the Greater Australian continent. Map includes an outline of the larger land mass know as “Sahul” or “Meganesia” that forms when the continental shelf (dark grey) is exposed during glaciation.
Helgen KM, Portela Miguez R, Kohen J, Helgen L. Sumber, CC BY 3.0, dicek 2026-06-17
Meskipun dunia ilmiah menyambut hangat penemuan kembali payangko, status kelangsungan hidup spesies ini masih berada di ujung tanduk. Pegunungan Cyclops menghadapi ancaman perambahan hutan untuk lahan pertanian serta penebangan kayu liar di perbatasan Jayapura. Kerusakan hutan di lereng bawah mengancam keutuhan habitat primer di bagian atas pegunungan.
Pemerintah daerah bersama masyarakat adat perlu memperkuat perlindungan kawasan hutan Cyclops melalui penegakan aturan adat sasi. Aturan sasi melarang aktivitas pengambilan hasil hutan dan perburuan satwa tertentu pada periode waktu yang disepakati bersama. Penerapan kearifan lokal ini terbukti efektif untuk memberikan waktu bagi alam memulihkan diri secara alami.
Riset lanjutan juga harus terus dijalankan untuk memperkirakan ukuran populasi nyata dan pola sebaran echidna di luar Pegunungan Cyclops. Penemuan kembali ini harus dijadikan momentum emas untuk merancang rencana pengelolaan kawasan lindung yang lebih terpadu. Kita tidak boleh membiarkan kelalaian manusia membuat mamalia bertelur yang unik ini lenyap untuk selamanya dari bumi Papua.
Claim Ledger
Tiap klaim utama dipisahkan dan diberi status bukti sendiri.
| Klaim | Status | Sumber | Catatan |
|---|---|---|---|
| Echidna moncong-panjang Attenborough dikonfirmasi masih hidup setelah terekam kamera jebak pada 2023 di Pegunungan Cyclops, Papua. | Terverifikasi kuat | [1][2] | Rekaman pertama dalam lebih dari 60 tahun, dikonfirmasi lewat naskah peer-review pada 2025. |
| Sebelum 2023, spesies ini hanya dikenal dari satu spesimen yang dikumpulkan pada 1961. | Terverifikasi kuat | [1] | Dideskripsikan Flannery dan Groves pada 1998 dari spesimen tunggal di Pegunungan Cyclops. |
| Penemuan kembali berhasil karena memadukan pengetahuan masyarakat adat Papua dengan kamera jebak. | Didukung sumber | [1][3] | Informasi warga lokal mengarahkan lokasi pemasangan kamera di medan yang sangat sulit. |
| Spesies ini berstatus Kritis (Critically Endangered) dan termasuk satu dari hanya lima spesies monotremata. | Terverifikasi kuat | [2][4] | Status IUCN Kritis; monotremata adalah satu-satunya kelompok mamalia yang bertelur. |
Sumber yang dirujuk
- Attenborough's echidna rediscovered by combining Indigenous knowledge with camera-trapping ↗
- Found at last: bizarre, egg-laying mammal finally rediscovered after 60 years (University of Oxford) ↗
- Collaboration key to rediscovery of egg-laying mammal in Papua's Cyclops Mountains ↗
- Echidna named after Attenborough is rediscovered (NPR) ↗
Batasan & hal yang belum pasti
- Angka pasti jumlah kamera, foto, dan video sedikit berbeda antar liputan; tulisan ini memakai kisaran yang dilaporkan, bukan satu angka tunggal.
- Penemuan kembali memastikan spesies masih ada, bukan bahwa populasinya aman. Ukuran populasi sebenarnya belum diketahui.
Sumber
4 rujukan- [1]
- [2]
- [3]
- [4]
Foto berlisensi yang ditampilkan
- Spesimen echidna Attenborough (Zaglossus attenboroughi), Naturalis Biodiversity Center, via Wikimedia Commons, CC0. Sumber, CC0 1.0 (domain publik), dicek 2026-06-16
- ZaglossusMAD, Almamía. Sumber, Public domain, dicek 2026-06-17
- Sir David's Long-beaked Echidna area, Chermundy. Sumber, CC BY-SA 3.0, dicek 2026-06-17
- Map of the Greater Australian continent with distribution of the three Zaglossus, Helgen KM, Portela Miguez R, Kohen J, Helgen L. Sumber, CC BY 3.0, dicek 2026-06-17
Lanjut menelusuri
Terhubung dengan tulisan ini
- Alam5 mntLazarus Taxon: Bagaimana Sebuah Spesies Dinyatakan Punah, dan Kenapa Itu SulitKerangka konsepnya: bagaimana status punah atau hidup dinilai, dan kenapa kasus ini masuk kategori bukti kuat.
- Alam5 mntHarimau Jawa: Sehelai Rambut yang Menolak Kata 'Punah'Bandingkan dengan kasus sebaliknya, di mana klaim kemunculan belum cukup terbukti.
Lanjutkan eksplorasi
Satu tulisan jarang berdiri sendiri. Ini beberapa pintu berikutnya.
Asisten Riset NaLI
Tentang: Echidna Attenborough: Hilang 60 Tahun, Muncul di Kamera Jebak Pegunungan Cyclops
Tanyakan apa saja tentang tulisan ini. Jawaban dirangkai dari arsip riset NaLI.
Jawaban dirangkai dari arsip NaLI dan bisa keliru, selalu cek sumber aslinya.
