Black-browed Babbler: Burung yang Hilang 172 Tahun, Ditemukan Dua Warga Kalimantan
Selama lebih dari satu abad, burung ini hanya berupa satu spesimen tua di museum Belanda, asalnya pun salah dicatat. Lalu dua warga Kalimantan Selatan tak sengaja menangkapnya hidup-hidup.
Pada Oktober 2020, sebuah peristiwa luar biasa terjadi di salah satu sudut hutan Kalimantan Selatan. Dua orang warga setempat, Muhammad Suranto dan Muhammad Rizky Fauzan, sedang mengumpulkan hasil hutan ketika mereka melihat seekor burung kecil yang tidak dikenal. Burung tersebut terperangkap secara tidak sengaja dalam jebakan sederhana yang mereka pasang.
Keduanya mengamati ciri fisik burung yang memiliki warna cokelat zaitun, dada abu-abu, mata merah terang, serta garis hitam tebal di atas matanya. Merasa ada yang tidak biasa dari penampilan burung tersebut, mereka mengambil beberapa foto secara jelas menggunakan telepon genggam. Warga ini kemudian melepaskan kembali burung itu ke alam bebas tanpa melukainya sedikit pun.
Foto-foto tersebut mereka kirimkan kepada komunitas pengamat burung setempat, yang kemudian meneruskannya kepada ornitolog nasional. Hasil pembandingan gambar memastikan sebuah kabar yang mengguncang dunia sains global. Burung tersebut adalah black-browed babbler (Malacocincla perspicillata), spesies yang telah hilang dari catatan ilmiah selama 172 tahun.
Satu Spesimen di Museum Belanda dan Teka-Teki Jawa

Black-browed babbler yang hidup, difoto setelah penemuan kembalinya di Kalimantan Selatan. Selama lebih dari 172 tahun, satu-satunya wujud spesies ini adalah spesimen mati di museum Belanda.
Panji Gusti Akbar, via iNaturalist dan Wikimedia Commons, CC BY 4.0. Sumber, CC BY 4.0, dicek 2026-06-16
Sebelum penemuan kembali pada 2020, seluruh pengetahuan dunia mengenai burung ini hanya bersandar pada satu spesimen mati. Benda koleksi tersebut dikumpulkan oleh ahli biologi Jerman, Carl A.L.M. Schwaner, antara tahun 1843 dan 1848 di Indonesia. Spesimen tunggal ini kemudian dikirim ke Eropa dan disimpan di Naturalis Biodiversity Center di Belanda.
Charles Lucien Bonaparte, keponakan Napoleon Bonaparte yang juga seorang naturalis ternama, mendeskripsikan burung ini secara formal pada 1850. Masalah muncul karena label pencatatan spesimen tersebut memuat kesalahan informasi geografis yang fatal. Asal-usul burung tertulis dari Pulau Jawa, padahal Schwaner melakukan sebagian besar ekspedisinya di pedalaman Borneo.
Kesalahan pencatatan lokasi ini menyesatkan para peneliti selama lebih dari seratus tahun. Para ahli burung berulang kali menyusuri hutan-hutan Jawa untuk mencari keberadaan spesies ini tanpa hasil. Pencarian salah sasaran ini membuat status kepunahan burung dianggap hampir pasti oleh sebagian besar lembaga konservasi internasional.
Perdebatan Status Punah dalam Ornitologi
Jeda waktu selama 172 tahun tanpa adanya laporan perjumpaan baru merupakan rekor terlama bagi spesies burung di kawasan Asia. Ketiadaan data lapangan ini memicu diskusi panjang mengenai kelayakan menyatakan suatu spesies telah punah. Banyak pihak menyimpulkan burung ini telah lenyap akibat pembukaan hutan besar-besaran sejak era kolonial.
Namun ornitologi modern mengajarkan bahwa ketiadaan bukti perjumpaan tidak selalu berarti kepunahan mutlak suatu spesies. Hutan Kalimantan yang sangat luas memiliki tutupan tajuk yang rapat serta medan berbukit yang sulit dijangkau manusia. Ditambah lagi, spesies ini memiliki kebiasaan hidup yang sangat tenang dan sering bersembunyi di semak-semak bawah hutan.

Malacocincla perspicillata (Bonaparte, 1850)
Bonaparte, 1850. Sumber, CC BY-SA 3.0, dicek 2026-06-17
Ketiadaan catatan selama satu setengah abad lebih mencerminkan minimnya aktivitas survei di wilayah pedalaman Kalimantan Selatan. Kasus ini membuktikan bahwa wilayah hutan sekunder yang berbatasan dengan pemukiman warga masih menyimpan keanekaragaman hayati yang luput dari radar sains. Dunia ilmiah sering kali terlalu cepat mengambil kesimpulan punah sebelum melakukan pencarian menyeluruh.
Pengetahuan Warga Lokal Sebagai Kunci Utama
Satu hal yang paling menarik dari penemuan kembali ini adalah peran krusial dari masyarakat adat setempat. Keberhasilan ini tidak berawal dari ekspedisi ilmiah berbiaya besar yang dipimpin oleh para peneliti asing bersenjata peralatan canggih. Penyelamatan data ilmiah ini justru bermula dari kepekaan dua warga desa yang mengenali keunikan satwa di sekitar mereka.
Muhammad Suranto dan Muhammad Rizky Fauzan tinggal berdampingan dengan habitat hutan tempat burung tersebut bertahan hidup. Pengetahuan harian mereka mengenai lingkungan sekitar membuat mereka langsung menyadari bahwa burung yang terperangkap itu bukan jenis biasa. Langkah mereka memotret dan mendokumentasikan burung tersebut menyelamatkan spesies ini dari kepunahan informasi.
Pengakuan atas kontribusi mereka diwujudkan dengan mencantumkan nama keduanya sebagai penulis pendamping dalam makalah ilmiah penemuan kembali tersebut. Makalah yang terbit di jurnal BirdingASIA pada akhir 2020 ini menjadi bukti penting kemitraan antara sains formal dan masyarakat. Penghargaan semacam ini menetapkan standar etika baru dalam dunia penelitian konservasi modern.
Pergeseran Etika Konservasi: Memotret Alih-Alih Menembak

Malacocincla perspicillata (Bonaparte, 1850)
Bonaparte, 1850. Sumber, CC BY-SA 3.0, dicek 2026-06-17
Keputusan untuk melepaskan kembali burung tersebut ke alam liar mencerminkan pergeseran besar dalam etika sains. Pada abad ke-19, metode pembuktian keberadaan spesies baru menuntut pengumpulan spesimen mati dengan cara menembak atau memerangkap satwa. Burung yang ditangkap harus dikuliti, diawetkan, dan disimpan dalam laci museum sebagai bukti fisik otentik.
Pada masa kini, teknologi kamera digital dengan resolusi tinggi mampu menghasilkan bukti visual yang tidak terbantahkan tanpa perlu mematikan satwa. Foto yang diambil oleh Suranto dan Fauzan menampilkan setiap detail bulu, bentuk paruh, dan warna mata dengan sangat tajam. Bukti visual ini cukup kuat untuk diverifikasi secara ilmiah oleh para ahli taksonomi internasional.
Pelepasan burung hidup ini sangat krusial mengingat kita belum mengetahui sisa ukuran populasi spesies tersebut di alam liar. Bagi satwa yang status keberadaannya sangat kritis, kematian satu individu dapat memberikan dampak buruk bagi kelangsungan genetik kelompoknya. Sains modern harus memprioritaskan keselamatan subjek penelitian di atas ambisi pengumpulan koleksi museum.
Menatap Masa Depan di Tengah Ancaman Lahan Kalimantan
Ditemukan kembali setelah 172 tahun tentu mendatangkan kegembiraan besar, tetapi status burung ini belum bisa dikatakan aman. Benteng terakhir tempat hidup burung ini di Kalimantan Selatan menghadapi tekanan berat dari aktivitas tambang batubara dan perkebunan sawit. Pembukaan lahan berskala industri ini terus mendesak hutan sekunder tempat burung bertengger.

Malacocincla perspicillata (Bonaparte, 1850)
Bonaparte, 1850. Sumber, CC BY-SA 3.0, dicek 2026-06-17
Status konservasi black-browed babbler di bawah Daftar Merah IUCN memerlukan penilaian ulang secara menyeluruh berdasarkan data terbaru. Langkah perlindungan mendesak yang harus dilakukan adalah memetakan batas sebaran geografis dari populasi yang tersisa di Pegunungan Meratus. Pengamanan kawasan hutan primer dan sekunder dari aktivitas pembabatan liar menjadi syarat mutlak agar spesies ini tidak hilang lagi.
Upaya ini membutuhkan kerja sama erat antara dinas kehutanan daerah, organisasi nirlaba konservasi, dan komunitas adat setempat. Perlindungan habitat tidak akan berhasil tanpa adanya alternatif mata pencaharian yang ramah lingkungan bagi warga sekitar hutan. Menjaga kelestarian burung ini berarti menjaga keutuhan ekosistem hutan Kalimantan yang menyokong kehidupan ribuan jiwa.
Penemuan kembali satwa yang sempat dikira hilang mengingatkan kita bahwa alam masih menyimpan banyak rahasia dari mata manusia. Hutan Kalimantan Selatan masih menyimpan denyut kehidupan spesies purba yang bertahan di sela-sela ekspansi aktivitas manusia. Tugas kita sekarang adalah memastikan bahwa kesempatan kedua yang diberikan oleh alam ini tidak berujung pada keheningan hutan yang permanen.
Claim Ledger
Tiap klaim utama dipisahkan dan diberi status bukti sendiri.
| Klaim | Status | Sumber | Catatan |
|---|---|---|---|
| Black-browed babbler ditemukan kembali pada 2020 di Kalimantan Selatan setelah lebih dari 172 tahun tanpa catatan yang sahih. | Terverifikasi kuat | [1][2] | Penemuan dikonfirmasi lewat foto burung hidup dan dipublikasikan di jurnal BirdingASIA pada 2020. |
| Sebelum 2020, spesies ini hanya dikenal dari satu spesimen abad ke-19 yang tersimpan di Naturalis, Belanda. | Terverifikasi kuat | [1][3] | Spesimen tunggal dikumpulkan sekitar 1843 hingga 1848 dan menjadi satu-satunya wujud spesies selama lebih dari satu abad. |
| Yang pertama menemukan burung hidup adalah dua warga lokal, Muhammad Suranto dan Muhammad Rizky Fauzan, bukan tim ekspedisi ilmiah. | Terverifikasi kuat | [1][3] | Keduanya menangkap, memotret, lalu melepas burung itu, dan ikut tercatat sebagai penulis makalah penemuan. |
| Asal geografis spesimen tunggal sempat keliru, sempat dikira dari Jawa, sebelum dipastikan dari Borneo. | Didukung sumber | [4] | Kebingungan lokalitas ini bertahan lebih dari seabad dan baru tertutup oleh penemuan di Kalimantan. |
Sumber yang dirujuk
- Missing for 170 years, the rediscovery of Black-browed Babbler Malacocincla perspicillata on Borneo (BirdingASIA 34) ↗
- Bird missing for 172 years rediscovered in Borneo rainforest (BirdLife International) ↗
- FOUND: Locals and Scientists Rediscover the Black-browed Babbler in Borneo After 172 Years (American Bird Conservancy) ↗
- Mystery bird not seen in 172 years makes surprise reappearance in Borneo forest (Mongabay) ↗
Batasan & hal yang belum pasti
- Angka jeda waktu disebut beragam antar sumber, sekitar 170 sampai 172 tahun, tergantung tahun acuan yang dipakai (pengumpulan spesimen versus deskripsi formal).
- Penemuan kembali memastikan spesies masih ada, bukan bahwa populasinya aman. Ukuran dan sebaran populasinya belum diketahui pasti.
Sumber
4 rujukan- [1]
- [2]
- [3]
- [4]
Foto berlisensi yang ditampilkan
- Black-browed babbler (Malacocincla perspicillata) hidup di Kalimantan Selatan, Panji Gusti Akbar, via iNaturalist dan Wikimedia Commons, CC BY 4.0. Sumber, CC BY 4.0, dicek 2026-06-16
- Naturalis Biodiversity Center - RMNH.AVES.89412 - Malacocincla perspicillata (Bo, Bonaparte, 1850. Sumber, CC BY-SA 3.0, dicek 2026-06-17
- Naturalis Biodiversity Center - RMNH.AVES.89412 - Malacocincla perspicillata (Bo, Bonaparte, 1850. Sumber, CC BY-SA 3.0, dicek 2026-06-17
- Naturalis Biodiversity Center - RMNH.AVES.89412 - Malacocincla perspicillata (Bo, Bonaparte, 1850. Sumber, CC BY-SA 3.0, dicek 2026-06-17
Lanjut menelusuri
Terhubung dengan tulisan ini
- Alam5 mntLazarus Taxon: Bagaimana Sebuah Spesies Dinyatakan Punah, dan Kenapa Itu SulitKerangka konsepnya: kenapa burung yang lama tak terlihat tidak otomatis berarti punah.
- Alam5 mntEchidna Attenborough: Hilang 60 Tahun, Muncul di Kamera Jebak Pegunungan CyclopsPola yang sama di Papua: penemuan kembali berbukti kuat yang berakar pada pengetahuan warga lokal.
- Alam5 mntHarimau Jawa: Sehelai Rambut yang Menolak Kata 'Punah'Bandingkan dengan kasus di ujung yang gelap, di mana klaim kemunculan belum cukup terbukti.
Lanjutkan eksplorasi
Satu tulisan jarang berdiri sendiri. Ini beberapa pintu berikutnya.
Asisten Riset NaLI
Tentang: Black-browed Babbler: Burung yang Hilang 172 Tahun, Ditemukan Dua Warga Kalimantan
Tanyakan apa saja tentang tulisan ini. Jawaban dirangkai dari arsip riset NaLI.
Jawaban dirangkai dari arsip NaLI dan bisa keliru, selalu cek sumber aslinya.
